Show simple item record

dc.contributor.authorSanti, Sri Mulyani Wira
dc.contributor.authorSatria, Andri Praja
dc.date.accessioned2019-03-12T11:31:25Z
dc.date.available2019-03-12T11:31:25Z
dc.date.issued2015-08
dc.identifier.citationAsrin, Mardiyono dan Saryono. (2007). Pemanfaatan Terapi Musik untuk Meningkatkan Status Kesadaran Pasien trauma Kepala Berat. Jurnal Keperawatan Soedirman, Vol. 2, No. 2 : Program Sarjana Keperawatan Universitas Jenderal Soedirman. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Republik Indonesia, www.depkes.go.id, diperoleh tanggal 4 September 2015. Batticaca, F. B. (2008). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Parsarafan. Jakarta : Salemba Medika. Dewanto, G. et al. (2009). Panduan Praktis Diagnosis & Tata Laksana Penyakit Saraf. Jakarta : EGC. Dewi, S. (2014). Pengaruh Terapi Musik tehadap Peningkatan Gaslow Coma Scale (GCS) pada Pasien Stroke di RSUD Dr Moewardi. Program Studi S1 Keperawatan : STIKES Kusuma Husada Surakarta. Dickson H. and Prwell, A. (2015). Use of Restraint to Manage Challenging Behaviour in Children after Traumatic Brain Injury. British Journal of Neuroscience Nursing, Vol. 10, No. 6. Djohn. (2006). Terapi Musik : Teori dan Aplikasi. Jakarta : Galangpress Group. Geyer, K. et al. (2013). Traumatic Brain Injury in Children : Acute Care Management. Pediatric Nursing, Vol. 39, No. 6 : Continuing Nursing Education (CNE). Irmawaty, L. dan Ratilasari, M. (2014). Manajemen Nyeri Menggunakan Terapi Musik pada Pasien Post Sectio Caesarea (Studi Kasus di RSUD Pasar Rebo Tahun 2013). Jurnal Ilmiah Widya, Vol. 2, No. 3 : STIKES Medistra Indonesia. Japardi, I. (2003). Pemeriksaan dan Sisi Praktis Merawat Pasien Cedera Kepala. Jurnal Keperawatan Indonesia, Vol. 7, No. 1 : Bagian Bedah Saraf FK USU Ka. UPF Bedah Saraf RS dr Pirngadi Medan. Kraniektomi Dekompresif, http://kamuskesehatan.com, diperoleh tanggal 4 september 2015. Mansjoer, A. et al. (2000). Kapita Selekta Kedokteran, Ed. 3. Jakarta : Media Aesculapius. Mau, A. (2013). Influence was Damped Down By Music to Pre Operative Patient Anxiety at Orchid Room, Frangiapi and Asoka RSUD. Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang. Jurnal Kesehatan, Vol. 1, No. 1 : STIKES Maranatha Kupang. Muttaqin, A. (2005). Pengantar Asuhan Keperawtan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta : Salemba Medika. Rahmi, R.P. (2013). Analisis Praktik Klini eperawatan Kesehatan masyaraat Perkotaan pada Pasien Cedera Kepala di RSUP Fatmawati. Program Ners Ilmu Keperawatan Depok : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Rihiantoro, T., Nurachmah, E. dan Sri H.R.T. (2008). Pengaruh Terapi Musik tehadap Status Hemodinamika pada Pasien Koma di Ruang ICU sebuah Rumah Sakit di Lampung. Jurnal Keerawatan Indonesia, Vol. 12, No. 2. Smeltzer, S.C. and Bare, B.G. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Ed. 8, Vol. 2. Jakarta : EGC. Terapi musik. www.terapimusik.com, diperoleh tanggal 3 September 2015.id_ID
dc.identifier.urihttps://dspace.umkt.ac.id//handle/463.2017/1062
dc.description.abstractCedera kepala meliputi trauma kulit kepala, tengkorak, dan otak. Cedera kepala menyumbang persentase yang besar terhadap kematian terkait trauma dan morbiditas kompleks. Jenis cedera yang dapat menyebabkan kerusakan kepala dan jaringan otak sangat bervariasi dari tekanan yang paling ringan sampai kecelakaan lalu lintas. Kejadian kecelakaan ini menimbulkan berbagai efek, risiko utama pasien yang mengalami cedera kepala adalah kerusakan otak akibat perdarahan atau pembengkakan otak sebagai respons terhadap cedera dan menyebabkan peningkatan tekanan intra kranial (TIK). Hal ini menimbulkan masalah gangguan perfusi jaringan serebral (otak). Terapi musik merupakan terapi alternatif. Saat seseorang mendengarkan musik maka akan merangsang pengeluaran hormon endorphin, efek yang ditimbulkan adalah menurunkan stimulus sistem saraf simpatis dan respon yang muncul adalah menurunnya aktivitas adrenalin. Salah satu skala pengukuran objektif terhadap sistem neurologik (perubahan status mental akibat ketidakefektifannya perfusi jaringan serebral (otak) adalah dengan Gaslow Coma Scale. Pada pemeriksaan Gaslow Coma Scale (GCS) digunakan untuk mengevaluasi status neurologik seperti respon mata (E), respon verbal (V) dan respon motorik (M). Karya Ilmiah Akhir Ners ini bertujuan untuk menganalisis intervensi inovatif terapi musik terhadap keefektifan perfusi jaringan serebral (otak) untuk mencegah terjadinya cedera otak sekunder pada pasien di Ruang Intensive Care Unit RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda. Hasil analisa menunjukkan pencapaian tindakan terapi musik dapat meningkatkan kesadaran dengan indikator Gaslow Coma Scale akan tetapi tindakan ini harus ditunjang dengan tindakan keperawatan yang lainnya seperti pemberian oksigenasi, pemeliharaan cairan dan elektrolit dan keseimbangan nutrisi.id_ID
dc.language.isoidid_ID
dc.publisherUniversitas Muhammadiyah Kalimantan Timurid_ID
dc.subjectCedera Kepalaid_ID
dc.subjectTerapi Musikid_ID
dc.subjectGaslow Coma Scaleid_ID
dc.titleAnalisis Praktik Klinik Keperawatan pada Pasien dengan Post Craniectomy Dekompresi dan Tracheostomy atas Indikasi Epidural Hematoma at Regio Lobus Frontal, Cedera Kepala Sedang, Diffuse Axonal Injury dan Fraktur Femur Dextra di Ruang Intensivecare Unit RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda Tahun 2015id_ID
dc.title.alternativeAnalysis of Nursing Clinical Practice in Patients with Post Craniectomy Decompressing and Tracheostomy the Indication Epidural Hematoma at Regio Frontal Lobe, Traumatic Brain Injury, Diffuse Axonal Injury and Fracture Femur Dextra in the Intensive Care Unit RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda 2015id_ID
dc.typeOtherid_ID


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record