Show simple item record

dc.contributor.authorHaryani, Roslitha
dc.contributor.authorAgustien, Rinnelya
dc.contributor.authorJumberi, Jumberi
dc.date.accessioned2019-04-15T07:46:19Z
dc.date.available2019-04-15T07:46:19Z
dc.date.issued2015-02-10
dc.identifier.citationAzwar, A., & Prihantono, J. (2003). Metode penelitian kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Batam: Binarupa Aksara. Cancer Care Nova Scotia. (2008). Best practice guidelines for the management of oral complications from cancer therapy. California: Nova Scotia Government. Diperoleh melalui www.cancercare.ns.ca tanggal 10 Juni 2014. Chen, C.F., Wang, R.H., Cheng, S.N., & Chang, Y.C. (2004). Assessment of chemotherapy-induced oral complication in children with cancer. Journal of Pediatic Oncology Nursing, 21(1), 23-39. Diperoleh melalui http://jpo.sagepub.com tanggal 11 Juni 2014. Cheng, K.K.F., Chang, A.M., & Yuen, M.P. (2004). Prevention of oral mucositis in paediatric patients treated with chemotherapy: A randomized crossover trial comparing two protocols of oral care. European Journal of Cancer, 40(8), 1208-1216. Diperoleh melalui www.ejcancer.com pada tanggal 11 Juni 2014. Dahlan, M. S. (2011). Statistik untuk kedokteran dan kesehatan : Deskriptif, bivariat, dan multivariat. Ed.5. Jakarta : Salemba Medika. Dharma, K. (2011). Metodologi penelitian keperawatan : Panduan melaksanakan dan menerapkan hasil penelitian. Jakarta : Trans Indo Medika. Dodd, M.J., Miaskowski, C., & Shiba G.H. (2000). Risk factors for chemotherapy induced oral mucositis: Dental appliances, oral-hygiene, previous oral lesion and history of smoking. Cancer Invest, 17(4), 278-284. Diperoleh melalui www.elsevier.com tanggal 11 Mei 2014. Eilers, J., Berger, A.M., & Petersen, M.C. (1988). Development, testing and application of oral assessment guide. Oncology Nursing Forum, 15, 325-330. Fajriyah, N. (2012). Efektifitas Tindakan Oral Hygiene Antara Povidone Iodine 1% dan Air Rebusan Daun Sirih di Pekalongan. Diperoleh dari http://www.journal.stikesmuh-pkj.ac.id tanggal 10 Mei 2014. Frankel, S., (1993). Antioxidant capacity and correlate charachteristic 14 unifloral honey. Journal Apicultural Research, 37(1), 27-31. Diperoleh melalui www.ibra.org.uk pada tanggal 25 Mei 2014. Gibson, F., et al. (2006). Establishing content validity of oral assessment guide in children and young people. European Journal of Cancer, 42(12), 1817-1825. Diperoleh melalui www.sciencedirect.com pada tanggal 28 Mei 2014. Grap, M.J., Munro, C.L., Elswick, R.K., Sessler, C.N., & Ward, K.R. (2004). Duration of action of a single, early oral application of chlorhexidine on oral microbial flora in mechanically ventilated patients: A pilot study. Heart and Lung, 33(2), 83-91. Diperoleh melalui www.ncbi.nlm.nih.gov pada tanggal 1 Juni 2014. Hastono, S.P. (2007). Analisis data kesehatan. Jakarta: Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia. Hastono, S. (2010). Statistik kesehatan, Edisi 5. Jakarta: Rajawali Pers. ___________. (2013). Statistik kesehatan. Jakarta : Rajawali Pers. Hayes, J., & Jones, C. (1995). A collaborative approach to oral care during critical illness. Dental Health, 34(3), 6-10. Diperoleh melalui http://www.perspectivesinnursing.org pada tanggal 11 Mei 2014. Hegner, Barbara R. (2003). Asisten keperawatan: Suatu pendekatan proses keperawatan. Jakarta : EGC. Hidayat, A.A. (2009). Metode penelitian keperawatan dan teknik analisa data. Jakarta: Salemba Medika. Hockenberry, J., & Wilson, D. (2009). Essential of pediatric nursing. St.Louis: Mosby Elsevier. Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2012). Buku ajar infeksi & pediatri tropis. Jakarta : Badan Penerbit IDAI. Jaroneski, L.A. (2006). The importance of assessment rating scale for chemotherapyinduced mucositis. Oncology Nursing Forum, 33(6), 1085-1093. Diperoleh melalui www.ncbi.nlm.nih.gov pada tanggal 1 Juni 2014. Jeffrey, R., & Baker, M.D. (2002). Management of fever in infant and children. American Academy of Pediatrics, 7 : 59-65. http://www.proquest.umi.com diperoleh tanggal 10 Mei 2014. Johnstone, et.al. (2010). Oral Hygiene Care in the Pediatric Intensive Care Unit : Practice Recommendations. Diperoleh melalui http://www. perspectives innursing.org pada tanggal 11 Mei 2014. Kozier, Erb., Berman, & Snyder, (2009). Buku ajar fundamental keperawatan konsep, proses, & praktik. (Ed. 5). Jakarta: EGC. Kusyati, E. (2006). Keterampilan dan prosedur laboratorium keperawatan dasar. Jakarta. EGC. McNeill, H.E. (2000). Biting back at poor oral hygiene. Intensive and Critical Care Nursing, 16(6), 367-372. Diperoleh melalui www.intensivecricitalnursing.com pada tanggal 9 Juni 2014. Mirza, A,; Chief Editor: Russell W Steele, (2006). Hospital-Acquied Infections Medscape http://emedicine.medscape.com/article/967022- overview#a0104 diperoleh pada tanggal 8 Juni 2014. Munro, C.L., & Grap, M.J. (2004). Oral health and care in the intensive care unit: state of the science. American Journal of Critical Care, 13(1), 25-34. Diperoleh melalui http://ajcc.aacnjournals.org tanggal 1 Juni 2014. New Zealand Dental Association (2006). How to look after your child’s teeth.. http://www.nzda.org.nz/public/kids. Diperoleh tanggal 9 Juni 2014. Ngastiyah. (1997). Perawatan anak sakit. Jakarta : EGC. NHS Foundation Trust. (2007). Evidence based mouthcare policy. London: Doncaster and Bassetlaw Hospital Release. Diperoleh melalui www.dhb.nhs.uk tanggal 1 Juni 2014. Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Nursalam. (2013). Metodologi penelitian ilmu keperawatan. (Ed.13). Jakarta: Salemba Medika. O’Reilly, M. (2003). Oral care of the critically ill: A review of the literature and guidelines for practice. Australian Critical Care, 16(3), 101-109. Diperoleh melalui http://pediatricnursing.net pada tanggal 5 Juni 2014. Polit, D.F., & Beck, C.T. (2008). Nursing research: Generating and assessing evidence for nursing practice. (8th edition). Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. PONEK. (2008). Paket pelatihan pelayanan obstetrik dan neonatal emergensi komprehensif (PONEK) asuhan neonatal esensial. PONF. (2006). Mouth care for children and young people with cancer: evidence based guidelines. Mouth Care Guidelines Report, Version 1, Feb 2006. Diperoleh dari www.ukccsg.uk tanggal 2 Juli 2014. Potter, P.A. (2005). Buku ajar fundamental keperawatan. Vol. 2 (Ed. 4). Jakarta: EGC. Potting, C. (2008). Oral mucositis: A nurse’s perspective. University of Nijmegen The Netherland: Disertasi. Diperoleh melalui www.nijmegen.ac.nt tanggal 10 Juni 2014. Rekam Medik Ruang PICU RSUD A. Wahab Sjahranie. (2014). Laporan bulanan pasien. Samarinda. Tidak untuk dipublikasikan. Rekam Medik RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. (2010). Laporan rekapitulasi tahunan ruang rawat anak. Bagian IKA RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Jakarta. Tidak dipublikasikan. Riduwan. (2009). Metode & teknik menyusun proposal penelitian. Bandung. Alfabeta. Sastroasmoro, S., & Ismael, S. (2010). Dasar-dasar metodologi penelitian klinis. Jakarta: Sagung Seto. Schwartz, M. W. (2004). Pedoman klinis pediatri. Jakarta : EGC. Setiadi. (2007). Konsep dan penulisan: Riset keperawatan, Edisi 1. Graha Ilmu: Jogyakarta. Simon, H. B. S. (2006). Hyperthermia fever and fever of undetemined origin. Infectious Desease, ACP Medicine. Xxvi, 1-13. Sugiyono. (2010). Metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R&D. Bandung. Alfabeta. Syahruramdhani. (2007). Komparasi Efektivitas Oral Hygiene dengan NaCl 0,9 % dan NaCl % + Betadine 0,1 % terhadap Kejadian Stomatis pada Pasien Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL) yang Menjalani Kemoterapi Fase Induksi di Bangsal Kartika 2 INSKA RSUP DR. Sardjito Yogyakarta diperoleh di http://digilib.fk.umy.ac.id pada tanggal 10 Mei 2014. The Children’s Hospital of Philadelphia. (2010). Pediatric Intensive Care Unit ; definition. Diperoleh melalui http://www.chop.edu tanggal 7 Mei 2014. The Royal Children’s Hospital. (2009). Mouth care-oral hygiene for haematology oncology children. Diperoleh melalui www.clinicalguide lines.au tanggal 12 Juni 2014. Walsh, A., Edwards, H.E., Courtney, M. D., Wilson, J.E., Moaghan, S. J. (2005). Fever management: pediatric nurses’ knowledge, attitudes and influencing factors. Journal of Advanced Nursing, 49(5), 453-464. Diperoleh melalui www.researchgate.net pada tanggal 10 Juli 2014. Wuensch, K.L. (2007). Inter-rater agreement. East Carolina: East Carolina University. Diperoleh melalui www.eastcarolina university.ac.us tanggal 5 Juli 2014. Yunanto, A. (2010). Buku ajar neonatologi.Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia.id_ID
dc.identifier.urihttps://dspace.umkt.ac.id//handle/463.2017/1168
dc.description.abstractLatar Belakang : Suhu tubuh pada anak-anak cenderung kurang stabil bila dibandingkan dengan orang dewasa. Suhu tubuh, selain dipengaruhi oleh penyakit, suhu eksternal atau lingkungan, dipengaruhi juga oleh obat-obatan, latihan, emosi, aktivitas menangis, hidrasi, serta radang. Radang dan infeksi yang dimaksud bisa berasal dari berbagai sumber, salah satunya berasal dari mulut yang kebersihannya kurang baik. Mulut merupakan rongga yang tidak bersih dan penuh dengan bakteri, karenanya harus selalu dibersihkan. Salah satu tujuan perawatan gigi dan mulut adalah untuk mencegah penyebaran penyakit yang ditularkan melalui mulut serta meningkatkan daya tahan tubuh. Menurut Grap & Munro (2004) infeksi di PICU juga dapat berasal dari sumber lain yaitu dari mulut yang perawatannya tidak adekuat, dikarenakan oral higiene merupakan bagian integral dari keperawatan intensif, namun sebagian perawat masih menganggap tindakan oral higiene bukanlah merupakan suatu prioritas. Meskipun semua pasien yang dirawat sama-sama sudah mendapat antibiotik dari dokter, dan semua juga terpasang alat-alat invasif namun data yang diperoleh dari studi pendahuluan yaitu pengamatan peneliti pada sepuluh orang pasien yang mengalami peningkatan suhu tubuh menyatakan bahwa pelaksanaan higiene mulut pada pasien di ruangan PICU belum sepenuhnya optimal baik frekuensi pelaksanaannya maupun cara pelaksanaannya yang belum sesuai dengan standar prosedur yang ada. Tujuan : Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara oral higiene dengan tanda infeksi perubahan suhu tubuh di Ruang PICU RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda. Metode penelitian : Rancangan penelitian ini adalah deskriptif korelasional dengan metode pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah pasien yang dirawat di ruang PICU RSUD A. Wahab Sjahranie Samarinda yang berjumlah 29 responden, cara pengambilan sampel dengan total sampling. Penelitian dilaksanakan dari bulan Oktober sampai November 2014. Instrumen penelitian berupa lembar observasi Oral Assessment Guide dan termometer digital. Analisis untuk uji hipotesis dengan uji statistik Pearson Product Moment. Hasil penelitian : Hasil uji statistik Pearson Product Moment terhadap hubungan antara oral higiene dengan tanda infeksi perubahan suhu tubuh di ruang PICU RSUD A. Wahab Sjahranie Samarinda didapatkan nilai signifikan (ρ) = 0,007 dimana nilai ini lebih kecil dari nilai yang dipakai yaitu α= 0,05 sehingga Ho ditolak atau ada hubungan yang bermakna antara variabel independen dengan variabel dependen. Kesimpulan dan saran: Ada hubungan yang signifikan antara oral higiene dengan tanda infeksi perubahan suhu tubuh di ruang PICU RSUD A. Wahab Sjahranie Samarinda. Saran peneliti agar tindakan oral higiene lebih ditingkatkan dan pelaksanaannya sesuai dengan standar operasional prosedur guna peningkatan pelayanan kesehatan pada umumnya dan pelayanan keperawatan pada khususnya di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda.id_ID
dc.language.isoidid_ID
dc.publisherUniversitas Muhammadiyah Kalimantan Timurid_ID
dc.subjectoral higieneid_ID
dc.subjecttanda infeksiid_ID
dc.subjectperubahan suhu tubuhid_ID
dc.titleHubungan antara Oral Higiene dengan Tanda Infeksi Perubahan Suhu Tubuh di Ruang PICU Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab Sjahranie Samarindaid_ID
dc.title.alternativeCorrelation between Oral Hygiene and Sign Infection Changes in Body Temperature at PICU of Abdul Wahab Sjahranie The General Hospital Samarindaid_ID
dc.typeOtherid_ID


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record