<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="https://dspace.umkt.ac.id//handle/463.2017/24">
<title>S1 Final Projects</title>
<link>https://dspace.umkt.ac.id//handle/463.2017/24</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="https://dspace.umkt.ac.id//handle/463.2017/357"/>
<rdf:li rdf:resource="https://dspace.umkt.ac.id//handle/463.2017/356"/>
<rdf:li rdf:resource="https://dspace.umkt.ac.id//handle/463.2017/355"/>
<rdf:li rdf:resource="https://dspace.umkt.ac.id//handle/463.2017/354"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-22T03:51:36Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="https://dspace.umkt.ac.id//handle/463.2017/357">
<title>Efektifitas Dosis Kapur Tohor dalam Mengoptimlkan Derajat pH  Limbah Cair Kelapa Sawit di PT. WKP Astra  Agro Lestari Tbk Penajam Paser Utara</title>
<link>https://dspace.umkt.ac.id//handle/463.2017/357</link>
<description>Efektifitas Dosis Kapur Tohor dalam Mengoptimlkan Derajat pH  Limbah Cair Kelapa Sawit di PT. WKP Astra  Agro Lestari Tbk Penajam Paser Utara
Khotimah, Khotimah; Yuliawati, Ratna
Kelapa sawit merupakan salah satu komoditi di beberapa daerah di Indonesia,terutama di pulau Kalimantan dan Sumatera. Limbah dari kelapa sawit terdiri atas tiga macam yaitu limbah cair, padat dan gas.Secara ekonomis, kelapa sawit sangat menguntungkan namun limbahnya sangat merugikan dan menjadi masalah bagi lingkungan.pH limbah kelapa sawit yang tidak optimal dapat mengganggu biota air. Maka untuk mengatasi masalah tersebut dilakukan pengoptimalan derajat pH.&#13;
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah limbah outlet kelapa sawit.Metode yang digunakan yaitu eksperimen. Pengoptimalan limbah kelapa sawit menggunakan bahan kapur tohor dengan berbagai dosis diantarnya 0,9 gr/L, 1 gr/L, 2 gr/L dan 3 gr/L. Pengumpulan data langsung diperoleh dari hasil penelitian di lapangan dan di laboratorium.&#13;
Berdasarkan hasil penelitian ini dengan penambahan kapur tohor dengan dosis 0,9 gr/L adalah 7,11, dosis 1 gr/L adalah 7,27, dosis 2 gr/L adalah 7,50 dan dosis 3 gr/L adalah 7,79. Faktor yang mempengaruhi pengukuran pH yaitu suhu &#13;
Dari penelitian ini dosis kapur tohor yang optimum adalah 0,9 gr/L. sesuai dengan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur No. 02 Tentang Baku Mutu Mutu Air Limbah Cair Pada Kegiatan Industri Minyak Kelapa Sawit Tahun 2011. Saran yang dapat diberikan sebaiknya meneliti kadar TSS dengan menggunakan kapur tohor
</description>
<dc:date>2017-08-07T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://dspace.umkt.ac.id//handle/463.2017/356">
<title>Efektifitas Ekstrak Etanol Kelopak Buah Sonneratia Alba  Sebagai Larvasida Aedes Aegypti</title>
<link>https://dspace.umkt.ac.id//handle/463.2017/356</link>
<description>Efektifitas Ekstrak Etanol Kelopak Buah Sonneratia Alba  Sebagai Larvasida Aedes Aegypti
Sari, Indah Permata; Kurniawan, Deny
Sonneratia alba merupakan jenis mangrove yang banyak terdapat di Indonesia. Berbagai kajian fitokimia mengenai Sonneratia alba menunjukkan bahwa tanaman ini sangat berpotensi sebagai anti jamur dan larvasida, khususnya di kulit batangnya. Namun, masih sedikit kajian mengenai pemanfaatan kelopak buah S. alba. Oleh karena itu, diperlukan suatu kajian fitokimia dari kelopak buah S. alba yang dapat bermanfaat sebagai larvasida. &#13;
Proses penelitian ini berupa ekstraksi kelopak buah Sonneratia alba menggunakan metode maserasi etanol. Hasil maserasi kemudian diuji fitokimia guna mengetahui kandungan senyawa aktif yang ada di kelopak buah S. alba. Kemudian diuji larvasida Aedes aegypti instar III/IV dengan konsentrasi 500, 1000, 2000, 3000 dan 4000 ppm. Data ditabulasi dan dituangkan dalam bentuk tabel dan gambar. &#13;
Berdasarkan hasil maserasi diperoleh rendemen ekstrak kelopak buah  S. alba pada pelarut etanol sebesar 7,74%. Hasil fitokimia pada pelarut etanol terkandung senyawa flavonoid dan karbohidrat. Hasil uji larvasida ekstrak etanol kelopak buah S. alba pada konsentrasi 500 ppm rat-rata kematian larva yaitu 23,3%, konsentrasi 1000 ppm 26,7%, konsentrasi 2000 ppm 36,7%, 3000 ppm 50% dan 4000 ppm 63,3%.Jadi, ekstrak etanol kelopak buah Sonneratia alba efektif dalam membunuh larva Aedes aegypti pada konsentrasi 3000 dan 4000 ppm dengan hasil kematian ≥ 50% dari hewan percobaan. Adapun saran dari penelitian ini yaitu penelitian ini tidak mengukur suhu, kelembaban, dan Ph air setelah ditambahkannya ekstrak etanol kelopak buah Sonneratia alba dan tidak melakukan LD (Lethal Dosis) yang efektif dalam mematikan larva Aedes aegypti.
</description>
<dc:date>2017-08-07T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://dspace.umkt.ac.id//handle/463.2017/355">
<title>Angka  Kuman Udara  Ruang   Instalasi Gizi  Rumah Sakit Jiwa Atma Husada Mahakam Samarinda</title>
<link>https://dspace.umkt.ac.id//handle/463.2017/355</link>
<description>Angka  Kuman Udara  Ruang   Instalasi Gizi  Rumah Sakit Jiwa Atma Husada Mahakam Samarinda
Nurmadaniah Hs, Febrina; Habibi, Muhammad
Salah satu sasaran pembangunan kesehatan adalah lingkungan sehat termasuk lingkungan rumah sakit. Rumah sakit merupakan sarana umum dan sebagai tempat berkumpulnya orang sakit maupun orang sehat, Pemerintah Indonesia telah mengatur persyaratan kualitas udara ruang kesehatan di lingkungan rumah sakit berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1204/MENKES/SK/X/2004 Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit Tujuan penelitian ini mengetahui Angka Kuman Udara Ruang Instalasi Gizi. Berdasarkan hal tersebut penulis melakukan penelitian tentang Angka Kuman Udara Ruang Instalasi Gizi Rumah Sakit Jiwa Atma Husada Mahakam Samarinda.&#13;
	Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif.Pengambilan sampel angka kuman udara dalam ruang Instalasi Gizi.&#13;
	Hasil penelitian dari pengambilan sampel di RSJ Atma Husada Mahakam Samarinda didapat hasil rata-rata 591 CFU/M3 pada suhu 28.50C dan kelembaban 60%.&#13;
Jadi, hasil pemeriksaan Angka kuman udara pada ruang Instalasi Gizi Rumah Sakit Jiwa Atma Husada Mahakam Samarinda didapatkan hasil rata-rata 591 CFU/m3 menujukan bahwa angka kuman udara di dalam ruangan tersebut berada di atas standar Kepmenkes No.1204/ Menkes/ SK/ X/ 2004 tentang Persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit, standar kualitas udara ruang rumah sakit. Adapun saran dari penelitian ini yaitu  upaya pencegahan secara teknis dilakukan dengan meningkatkan prosedur pembersihan sterilisasi ruangan sesudah dan sebelum makanan disajikan, dan melakukan peningkatan hygiene penjamah makanan rumah sakit.
</description>
<dc:date>2017-08-08T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://dspace.umkt.ac.id//handle/463.2017/354">
<title>Optimasi Pemanfaatan Biji Kelor Sebagai Bahan Koagulan Alami dalam Mengolah Kadar Kekeruhan pada Air Sungai Mahakam Tahun 2017</title>
<link>https://dspace.umkt.ac.id//handle/463.2017/354</link>
<description>Optimasi Pemanfaatan Biji Kelor Sebagai Bahan Koagulan Alami dalam Mengolah Kadar Kekeruhan pada Air Sungai Mahakam Tahun 2017
Bahrian, Chandra Valentina Befi Nurfiani; Habibi, Muhammad
Air digunakan sebagai keperluan sehari-hari yang harus memenuhi standar baku air untuk keperluan air minum, rumah tangga, dan lain - lain. Seperti halnya pada air Sungai Mahakam Kelurahan Loa Duri Ulu Kecamatan Loa Janan yang lokasi wilayahnya berada dihulu Sungai Mahakam. Secara fisik airnya keruh, berwarna dan mengandung zat organik/anorganik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dosis optimasibiji kelor dalam menurunkan  kekeruhan(Turbidity)di Air Sungai Mahakam.&#13;
Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian eksperimen semu (Quasi Eksperimen)ataurancangan rangkaian waktu (Time Series Design) yaitu melakukan pengukuran sebelum dan sesudah pembubuhan biji kelor dengan  perlakuan pengambilanGrab Sample selama 1 hari. Percobaan  ini menggunakan metode Jartest untuk menjernihkan air baku Sungai Mahakam dengan cara menambahkan serbuk biji kelor (Moringan Oleifera) kedalam 1 liter air dengan variasi dosis 0,1 g/L, 0,2 g/L, 0,3 g/L, dan 0,4 g/L.&#13;
Dari hasil penelitian yang dilakukan pada air Sungai Mahakam tingkat kekeruhan (Turbidity) sebesar 21 NTUsehingga bisa dikatakan tidak memenuhi syarat kekeruhan air bersih sesuai Permenkes RI No.416/Menkes/Per/IX/1990 yaitu standar yang diperbolehkan 25 NTU. Setelah pembubuhan biji kelor dengan variasi dosis yang berbeda didapat hasil 0,1 g/L : 51,9 NTU, 0,2 g/L : 70,5 NTU, 0,3 g/L : 103 NTU, dan 0,4 g/L : 113 NTU.&#13;
Dosis optimum biji kelor pada penelitian kali ini, dari dosis 0,1 mampu menurunkan tingkat kekeruhan 75,74 %.Air sungai yang akan digunakan untuk kebutuhan air bersih untuk keperluan  MCK (Mandi Cuci Kakus) dan sebagainya, sebaiknya melakukan uji jartest terlebih dahulu untuk mengetahui dosis optimum serbuk kelor untuk menurunkan kekeruhan, sebelum di sosialisasikan ke masyarakat.
</description>
<dc:date>2017-08-08T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
