Show simple item record

dc.contributor.authorArdiani, Tiara
dc.contributor.authorNur Azmi, Rizki
dc.date.accessioned2022-03-17T04:43:51Z
dc.date.available2022-03-17T04:43:51Z
dc.date.issued2021-07-08
dc.identifier.citationA.Angbalaga, C. C. Ani, D. Atsukwei , E. D. Eze, A. M. Afodun, E. O. Igoh, S. C. Owoeye and C. B. Ukaonu (2018). Correlation of hepatobiliary ultrasonographic findings with cd4cell count and liver enzymes in adult hiv/aids patients in Jos. Journal of AIDS and HIV Research, 10(6), 83–95. Agustya, M., Wesnawa, D. P., Nama, N., Bagian, P., Smf, /, & Buleleng, P. R. (2016). Profil Pasien Koinfeksi TB – HIV. J Respir Indo, 36(3), 175–181 Bayupurnama. (2014). Hepatotoksisitas imbas obat. Dalam Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S (eds). Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid II. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI. Boyer TD, M. M. & S. A. (2012). Zakim and Boyer’s Hepatology A Text Book of Liver Disease (6th ed). Philadelphia: Elsevier saunders. Clarasanti, I., Wongkar, M. C. P., & Waleleng, B. J. (2016). Gambaran enzim transaminase pada pasien tuberkulosis paru yang diterapi dengan obat-obat anti tuberkulosis di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. E-CliniC, 4(1), 1–6. Delita Prihatni, Ida Parwati, Idaningroem Sjahid, C. R. (2005). Efek Hepatotoksik Anti Tuberkulosis Terhadap Kadar Aspartate Aminotransferase Dan Alanine Aminotransferase Serum Penderita Tuberkulosis Paru. Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory, 12(1), 1–5. Ditjen PPM & PL. (2014). Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis 2014. Jakarta : Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Ditjen PPM & PL Depkes. (2016). Profil Kesehatan Indonesia tahun 2015. Jakarta : Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Dyah Nova Ranti Ayuningtyas, A. (2013). Perbedaan Kadar SGOT-SGPT Sebelum Dan Sesudah Pemberian Obat Antituberkulosis Fase Awal. Jurnal Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Hall, P., & Cash, J. (2012). What is the real function of the liver “function” tests?: Discovery Service for Endeavour College of Natural Health Library. Ulster Medical Journal, 81(1), 30–36. Jang, E. S., Jeong, S. H., Hwang, S. H., Kim, H. Y., Ahn, S. Y., Lee, J., Lee, S. H., Park, Y. S., Hwang, J. H., Kim, J. W., Kim, N., & Lee, D. H. (2012). Effects of coffee, smoking, and alcohol on liver function tests: A comprehensive cross-sectional study. BMC Gastroenterology, 12(1), 1. Juliarta, I. G., Mulyantari, N. K., & I wayan Putu Sutirta Yasa. (2018). Gambaran Hepatotoksisitas ( ALT / AST ) Penggunaan Obat AntiTuberkulosis Lini Pertama Dalam Pengobatan Pasien Tuberkulosis Paru Rawat Inap Di RSUP Sanglah Denpasar Tahun 2014. E_Jurnal Medika, 7(10). Kim JH, Nam WS, Kim SJ, Kwon OK Seung EJ, J. J. (2017). Mechanism Investigation of Rifampicin-Induced Liver Injury Using Comparative Toxicoproteomics in Mice. Int J Mol Sci, 18, 1–13. Lewis JH & Kleiner DE. (2012). Hepatic injury due to drugs, herbal compounds, chemicals and toxins, Dalam: MacSween’s Pathology of the Liver Philadelpia : Elsivier. Loho IM, H. I. (2014). Drug-induced liver injury – tantangan dalam diagnosis. Jurnal CKD, 41(1). Maria I L, H. I. (2014). Drug-induced liver injury – Tantangan dalam diagnosis. Jakarta : Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Metushi I, Uetrecht J, P. E. (2016). Mechanism of isoniazid-induced hepatotoxicity: then and now. Br J Clon Pharmacol, 81, 1030–1036. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. (2012). Severity Grading In Drug Induced Liver Injury. In LiverTox: Clinical and Research Information on Drug-Induced Liver Injury. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK548241/ diperoleh 2 juli 2021 Ngouleun, W., Biapa Nya, P. C., Pieme, A. C., & Telefo, P. B. (2016). Risk assessment of hepatotoxicity among tuberculosis and human immunodeficiency virus/AIDS-coinfected patients under tuberculosis treatment. International Journal of Mycobacteriology, 5(4), 482–488. Pingzheng, M., Zhu, Q., Teter, C., Yang, R., Deng, L., Yan, Y., Chen, J., Zeng, J., & Gui, X. en. (2014). Prevalence, drug-induced hepatotoxicity, and mortality among patients multi-infected with HIV, tuberculosis, and hepatitis virus. International Journal of Infectious Diseases, 28, e95–e100. Pranata, J. R., Mariadi, I. K., & Somayana, G. (2019). Prevalensi dan Gambaran Umum Drug-Induced Liver Injury Akibat Obat Anti Tuberkulosis pada Pasien Tuberkulosis di RSUP Sanglah Denpasar Periode Agustus 2016 – Juli 2017. Jurnal Medika Udayana, 8(9). Ramappa, Vidyasagar, Aithal, G. P. (2013). Hepatotoxicity Related to Anti-tuberculosis Drugs : Mechanisme and Management. Journal of Physiology and Pharmacology, 3(1), 37–49. Reza & Rachmawati. (2017). Perbedaan Kadar Sgot Dan Sgpt Antara Subyek Dengan Dan Tanpa Diabetes Mellitus. 6(2), 158–166. Rosida, A. (2016). Pemeriksaan Laboratorium Penyakit Hati. Berkala Kedokteran, 12(1), 123. Rusmini, H., Nurmalasari, Y., & Ariza, R. (2018). Perbandingan Status Gizi Tb Luluh Paru Dengan Pasien Tb Tanpa Luluh Paru. Jurnal Ilmu Kedokteran Dan Kesehatan, 5, 38–43. Sarkar S, Ganguly A, S. H. (2016). Current overview of Anti-tuberculosis Drugs: Metabolism and Toxicities. Mycobact Dis, 6, 1–6. Saukkonen, J. J., Cohn, D. L., Jasmer, R. M., Schenker, S., Jereb, J. A., Nolan, C. M., Peloquin, C. A., Gordin, F. M., Nunes, D., Strader, D. B., Bernardo, J., Venkataramanan, R., & Sterling, T. R. (2006). An official ATS statement: Hepatotoxicity of antituberculosis therapy. American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine, 174(8), 935–952. Shih TY, Pai CY, Yang P, Chang WL Wang NC, Y.-P. O. (2013). A novel mechanism underlies the hepatotoxicity of pyrazinamide. Antimicrobial Agents and Chemotherapy, 57, 1685–1690. Sugiyono. (2007). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta. Sumantri, A. F., Djumhana, A., Wisaksana, R., & Sumantri, R. (2015). Insidensi dan Karakteristik Hepatotoksisitas Obat Antituberkulosis pada Penderita Tuberkulosis dengan dan tanpa Infeksi HIV. Global Medical & Health Communication (GMHC), 3(2), 78. UNAIDS. (2016). Global AIDS Update 2016. Gneva : Joint United Nations Progamme on HIV/AIDS. Vitarani Dwi Ananda Nigrum, Arina Megasari, D. H. (2010). Hepatotoksik pada pengobatan Tuberkulosis di RSUD tangerang-indonesia. Jurnal Ilmu Farmasi, 7(1). Wang P, Pradhan K, Zhong XB, M. X. (2016). Isoniazid metabolism and hepatotoxicity. Acta Pharm Sin B, 6, 384–392. WHO. (2010). Treatment of Extrapulmonary TB and TB in Special Situation. World Health Organization. Wondwossen Abera, Cheneke, W., & Abebe, G. (2016). Incidence of antituberculosis-drug-induced hepatotoxicity and associated risk factors among tuberculosis patients in Dawro Zone, South Ethiopia: A cohort study. International Journal of Mycobacteriology, 5(1), 14–20. Wright GD. (2012). Back to the future: a new ‘old’ lead for tuberculosis. EMBO Moi Med, 4, 1029–1031. Yimer, G., Aderaye, G., Amogne, W., Makonnen, E., Aklillu, E., Lindquist, L., Yamuah, L., Feleke, B., & Aseffa, A. (2008). Anti-tuberculosis therapy-induced hepatotoxicity among Ethiopian HIV-positive and negative patients. PLoS ONE, 3(3), 1–5. Zeleke, A., Misiker, B., & Yesuf, T. A. (2020). Drug-induced hepatotoxicity among TB/HIV co-infected patients in a referral hospital, Ethiopia. BMC Research Notes, 13(1), 1–5. Zulkifli amin, Djoerban, Z., Yunihastuti, E., Uyainah, A., & Zulkifli. (2013). Profil Pasien Tb-hiv dan Non Tb-hiv di Rscm. Indonesian Bulletin of Health Research, 41(4), 195–199id_ID
dc.identifier.urihttps://dspace.umkt.ac.id//handle/463.2017/2179
dc.description.abstractLatar Belakang: Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi yang masih menjadi permasalahan kesehatan di dunia. Indonesia menyumbangkan lebih dari 10% dari seluruh kasus TB dunia. Masalah TB dunia sekarang ini lebih besar daripada sebelumnya, diantaranya disebabkan oleh infeksi human immunonodeficiency virus atau HIV. Infeksi HIV ini mengakibatkan progresivitas penyakit TB lebih cepat, meningkatkan kemungkinan manifestasi klinis dan juga dapat meningkatkan angka kejadian kegagalan pengobatan TB. Pengobatan TB dapat menyebabkan kerusakan hati karena OAT khususnya Isoniazid, rifampisin, dan pirazinamid bersifat hepatotoksik oleh karena itu, monitoring fungsi hati sangat penting dilakukan untuk mengetahui apakah terjadi hepatotoksik atau tidak. Tujuan Penelitian: Bertujuan untuk mengetahui perbedaan profil tes fungsi hati terhadap pengunaan obat anti tuberkulosis pada pasien TB dan TB/HIV co-infection dan untuk mengetahui perbedaan gambaran hepatotoksik pada pasien TB dengan TB/HIV co-infection terhadap penggunaan obat anti tuberkulosis. Metode Penelitian: Penelitian ini mengunakan metode cross sectional secara retrospektif dengan menggunakan data sekuder berupa rekam medis rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab Sjahranie samarinda, data yang diperoleh di analisis dengan SPSS mengunajak Chi-square, mann-Whitney dan uji fisher. Hasil dan Kesimpulan Penelitian : Hasil perbedaan liver function test diperoleh nilai rata-rata SGOT pada pasien TB yaitu 76,2±55,0 sedangkan pada TB/HIV Co-infection didapatkan nilai rata-rata 127,1±123,1 dengan nilai p 0,020. Rata-rata SGPT pada pasien TB yaitu 74,5±73,5 dan pada TB/HIV Co-infection didapatkan nilai rata-rata 100,7±83,2 dengan nilai p 0,042. Pada hasil gambaran hepatotoksik pada pasien TB terdapat 28,3% tidak mengalami hepatotoksik, 26,4% dengan grade 1, 35,8% dengan grade 2 dan 9,4% dengan grade 3 sedangkan pada TB/HIV Co-infection terdapat 5,7% tidak mengalami hepatotoksik, 47,2% dengan grade 1, 24,5% dengan grade 2, 22,6% dengan grade 3 dan di peroleh nilai p 0,002. Serta gejala hepatotoksik pada pasien TB yaitu kebanyakan tidak ada gejala, mual, Fatigue, Muntah, demam, dan nyeri perut. Sedangkan pada TB/HIV Co-infection kebanyakan pasien mengalami gejala berupa mual ,demam, muntah, fatigue, tidak ada gejala dan nyeri perut. Dan dapat disimpulkan, Terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik pada kejadian hepatotoksik dan derajat hepatotoksik yang di alami oleh pasien TB dan TB/HIV Co-infection. Adapun gejala klinis hepatotoksik yang sering muncul pada pasien TB yaitu mual, tidak ada gejala, sedangkan pada TB/HIV Co-infection gejala yang banyak muncul yaitu mual, demam, dan terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik pada hasil liver function test dengan parameter SGPT dan SGOT.id_ID
dc.language.isoidid_ID
dc.publisherUniversitas Muhammadiyah Kalimantan Timurid_ID
dc.subjectliver function testid_ID
dc.subjectgambaran hepatotoksikid_ID
dc.subjectobat anti tuberkulosisid_ID
dc.subjecttuberkulosisid_ID
dc.subjectHIVid_ID
dc.titleAnalisis Perbedaan Liver Function Test dan Gambaran Hepatotoksik Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis pada Pasien TB dan TB/HIV Co-Infectionid_ID
dc.title.alternativeAnalysis of Differences in Liver Function Test and Description Hepatotoxic of Anti-Tuberculosis Drug Use in Patients with TB and TB/HIV Co-Infectionid_ID
dc.typeSkripsiid_ID


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record